Monday, March 15, 2021

Kurikulum 2013

Inti dari Kurikulum 2013 adalah terdapat pada upaya penyederhanaan dan tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap dalam menghadapi masa depan. Karena itu, kurikulum disusun untuk memgantisipasi perkembangan masa depan. 

A.  Alasan Pengembangan Kurikulum 2013

  1. Tantangan masa depan, meliputi: adanya globalisasi, kemajuan teknologi informasi, masalah lingkunagn hidup, konverensi ilmu dan teknologi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, pengaruh dan imbas teknosains, materi TIMSS dan PISA.
  2. Kompetensi masa depan, meliputi: kemampuan berkomunikasi serta berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
  3. Persepsi masyarakat, meliputi: beban siswa terlalu berat, terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, kurang bermuatan karakter.
  4. Fenomena negatif yang mengemuka, meliputi: narkoba, plagiarisme, perkelahian antarpelajar, korupsi, kecurangan dalam ujian, gejolak masyarakat.
  5. Perkembangan pengetahuan dan pedagogi, meliputi: psikologi, discovery learning dan collaborative learning, neurologi.
B.  Filosofi Kurikulum 2013
  1. Kurikulum sebagai materi, meliputi: mewakili pandangan teoritis (planning oriented), kurikulum sebagai wahan menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa, perencanaan pembelajaran sangat dominan dan ketat berdasarkan urutan logis dari materi pembelajaran.
  2. Kurikulum sebagai produk, meliputi: mewakili pandangan produktif (result oriented), dipicu oleh kebutuhan pasar atas kompetensi yang harus dikuasai oleh lulusan (produk) program pendidikan.
  3. Kurikulum sebagai proses, meliputi: pandangan praktis (action oriented), penekanan pada berpikir kritis yang diwujudkan dalam tindakan nyata dengan membangun kolaborasi antar pelaku pendidikan (siswa, guru, pengelola).
  4. Kurikulum sebagai praksis kontekstual, meliputi: perluasan dari konsep kurikulum sebagai proses dengan penambahan perlunya komitmen bersama (antarpelaku pendidikan) menyepakati kegiatan-kegiatan untuk mencapai target tertentu, penguasaan materi pembelajaran diperoleh melalui siklus aksi dan refleksi berkelanjutan.
C.  Perubahan Mendasar dari Kurikulum Sebelumnya

      Terdapat 4 perubahan besar dalam Kurikulum 2013:
  1. Konsep kurikulum. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) diturunkan dari kebutuhan, Standar Isi diturunkan dari SKL melalui Kompetensi Inti yang bebas mata pelajaran, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengatahuan, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti.
  2. Buku yang dipakai. Buku ditulis mengacu pada konsep kurikulum (KI, KD, silabus), dalam mengajar ada 2 jenis buku yaitu buku siswa dan buku guru, buku siswa ditekankan pada activity base bukan merupakan bahan bacaan, setiap buku memuat model pembelajaran dan projek yang akan dilakukan oleh siswa, buku guru memuat panduan bagi guru dalam megajarkan materi pada siswa.
  3. Proses pembelajaran. Setiap pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik untuk meningkatkan kreativitas peserta didik, kegiatan pembelajaran yang dilakukan yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar, mencipta, mengkomunikasikan.
  4. Proses penilaian. Proses penilaian yang mendukung kreativitas yaitu dengan mengukur tingkat berpikir siswa mulai dari rendah sampai tinggi, menekankan pada pertanyaan yang membutuhkan pemikiran mendalam (bukan sekedar hafalan), mengukur proses kerja siswa (bukan hanya hasil kerja siswa), menggunakan portofolio pembelajaran siswa. 
D.  Komponen Kurikulum 2013
  1. Komponen Tujuan. K13 memiliki tujuan yaitu berkaitan dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kehadiran K13 ini turut serta dalam mewujudkan tujuan dari pendidikan itu sendiri yang meliputi Tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional, Tujuan Kurikuler, dan Tujuan Instruksional.
  2. Komponen Isi. Komponen isi meliputi segala hal yang akan diterima oleh peserta didik melalui proses belajar-mengajar yang diikutinya, mulai  dari jenis mata peajaran yang dipelajari hingga program dari tiap mata pelajaran tersebut.
  3. Komponen Metode. Komponen ini meliputi segala unsur yang terlibat dalam sebuah perencanaan guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Pada komponen ini, pendidik dituntut untuk memiliki kreativitas dalam memilih metode yang akan digunakan.
  4. Komponen Evaluasi. Komponen evaluasi memiliki peran dalam memberikan penilaian terhadap suatu proses pembelajaran yang telah dilakukan. Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam melakukan evaluasi yaitu evaluasi harus tervaliditas, reliabilitas, efisiensi, dan bersifat praktis.
E.  Perbandingan Kurikulum 2013 dengan Kurikulum Sebelumnya (KTSP)

No.

Kurikulum 2013

KTSP

1.

SKL ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013. Kemudian baru ditentukan standar Isi, yang berbentuk Kerangka Dasar Kurikulum yang dituang dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013

Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melalui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Kemudian ditentukan SKL melaui Permendiknas No 23 Tahun 2006

2.

Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan

Lebih menekankan pada aspek pengetahuan

3.

Di jenjang SD tematik terpadu untuk kelas I-VI

Di jenjang SD tematik terpadu untuk kelas I-III

4.

Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit disbanding KTSP

Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak disbanding K13

5.

Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan saintifik, yaitu standar proses dalam pembelajaran

Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi

6.

Teknologi Informasi dan Komunikasi bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran

TIK sebagai mata pelajaran

7.

Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur  semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil

Penilaian lebih dominan pada aspek pengetahuan

8.

Pramuka menjadi ekstrakurikuler wajib

Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib

9.

Peminatan (penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA

Penjurusan mulai kelas XI

10.

BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa

BK lebih pada menyelesaikan masalah siswa



Wednesday, March 3, 2021

Taba's Inverted Model (Model Terbalik) / Model Kurikulum Taba

Model Konseptualisasi dalam bentuk persamaan, peralatan fisik, uraian atau analogi grafik yang menggambarkan situasi (keadaan) yang sebenarnya, baik berupa keadaan apa adanya maupun keadaan yang seharusnya. Pengembangan Kurikulum (curriculum development) merupakan istilah komprehensif di dalamnya mencakup perencanaan, penerapan, dan penilaian.

Model kurikulum menurut Taba dinamakan 'inverted model' atau model terbalik karena merupakan kebalikan dari model kurikulum yang ada sebelumnya. Kurikulum yang ada sebelumnya dikembangkan secara deduktif, sedangkan Taba mengembangkan kurikulum secara induktif. Menurut Taba esensial proses deduktif cenderung mengurangi kemungkinan adanya inovasi kreatif karena pengembangan secara deduktif dapat membatasi kemungkinan mengeksperimentasikan konsep-konsep baru kurikulum. Oleh karena itu, Taba mengembangkan kurikulum menggunakan cara pengembangan induktif yang disebut sebagai inverted model (model terbalik). Pengembangan model terbalik ini diawali dengan melakukan percobaan dan penyusunan teori serta diikuti dengan tahapan implementasi. Hal dilakukan guna mempertemukan teori dan praktek.

Kurikulum menurut Hilda Taba adalah: “a curriculum is a plan for learning, therefore what is know about the learning process and the development of individual has bearing on the shaping of the curriculum”. Kurikulum adalah suatu rencana belajar, oleh karena itu konsep-konsep tentang belajar dan perkembangan individu dapat mewarnai bentuk-bentuk kurikulum.

Berbeda dengan model yang dikembangkan Tyler, model Taba lebih menitik beratkan kepada bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, dalam kurikulum ini dikembangkan tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh para pengembang kurikulum. Model pengembangan ini lebih rinci dan lebih sempurna jika dibandingkan dengan model pengembangan Tyler. Model Taba merupakan modifikasi dari model Tyler. Modifikasi tersebut terutama penekanannya pada pemusatan perhatian guru. Teori Taba mempercayai bahwa guru merupakan faktor utama dalam pegembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum yang dilakukan guru dan memposisikan guru sebagai inovator dalam pengembangan kurikulum. Merupakan karakteristik dalam model pengembangan Taba.

Model ini dimulai dengan melaksanakan eksperimen, diteorikan, kemudian diimplementasikan. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan antara teori dan praktik, serta menghilangkan sifat keumuman dan keabstrakan kurikulum, sebagaimana sering terjadi apabila dilakukan tanpa kegiatan eksperimental.

Keuntungan digunakannya inverted model ini adalah:
  1. Membantu untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek karena produksi unit-unit tadi mengkombinasikan kemampuan teoritik dan pengalaman praktis.
  2. Kurikulum yang terdiri dari unit-unit mengajar-belajar yang disiapkan oleh guru-guru lebih mudah diintroduser ke sekolah, berarti lebih mudah dimengerti dibandingkan dengan kurikulum yang umum dan abstrak yang dihasilkan oleh urutan tradisional.
  3. Kurikulum yang terdiri dari kerangka umum dan unit-unit belajar-mengajar lebih berpengaruh terhadap praktek kelas dibandingkan dengan kurikulum yang ada.
Taba mengajukan pandangan yang berlawanan yaitu: langkah awal dimulai dengan perencanaan unit-unit belajar-mengajar yang spesifik, bukan diawali dengan desain kerangka yang umum. Lalu unit-unit tersebut diujicobakan dalam kelas yang kemudian akan digunakan sebagai dasar empirik untuk menentukan overall design.

a. Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru

Penyusunan unit diawali dengan mendiagnosis kebutuhan serta dilanjutkan dengan merumuskan tujuan. Kegiatan ini juga mempertimbangkan keseimbangan antara kedalaman serta keluasan materi pelajaran yang akan disusun. Kelompok tenaga pengajar membuat unit eksperiment sebagai ajang untuk melakukan studi tentang hubungan teori dan praktek. Untuk itu diperlukan (1) Perencanaan yang didasarkan atas teori yang kuat (2) Eksperimen didalam kelas yang dapat menghasilkan data empiris untuk menguji landasan teori yang digunakan. Hasil dari langkah ini berupa teaching-leaming unit yang masih bersifat draft yang siap diuji pada langkah berikutnya.

b. Menguji unit eksperimen

Unit-unit (teaching-learning units) yang telah dibuat pada langkah pertama selanjutnya diujicobakan pada kelas-kelas eksperimen dalam berbagai situasi dan kondisi belajar. Tujuan dari dilakukannya uji coba ini adalah untuk mengetahui tingkat validitas dan kelayakan unit-unit dalam pengajaran serta untuk mengetahui keyakinan terap bagi tenaga pengajar yang memiliki gaya mengajar dan kemampuan melaksanakan pengajaran unit yang berbeda-beda. Hasil uji coba ini dapat digunakan untuk menyempurnakan draft kurikulum.

c. Mengadakan revisi dan konsolidasi

Langkah ini dilakukan jika hasil pada langkah kedua menunjukkan perlunya perbaikan dan penyempurnaan unit-unit yang telah disusun. Revisi dan penyempurnaan draf teaching learning units dilakukan berdasarkan data dan informasi yang terkumpul selama langkah pengujian. Pada langkah ini dilakukan pula penarikan kesimpulan (konsolidasi) tentang konsistensi teori yang digunakan. Langkah ini dilakukan bersama oleh koordinator kurikulum dan ahli kurikulum. Produk langkah ini berupa teaching learning units yang telah teruji di lapangan. Bila hasilnya sudah memadai, maka unit-unit tersebut dapat disebarkan dalam lingkup yang lebih luas.

d. Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum

    Perkembangan yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan yang berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan apa isi unit-unit yang disusun secara berurutan itu telah berimbang ke dalamnya dan keluasannya, dan apakah pengalaman belajar telah memungkinkan belajarnya kemampuan intelektual dan emosional. Apabila proses penyempurnaan telah dilakukan secara menyeluruh maka langkah berikutnya mengkaji kerangka kurikulum yang dilakukan oleh para ahli kurikulum dan profesional lainnya. Produk dari langkah-langkah ini adalah dokumen kurikulum yang siap untuk diimplementasikan dan didesiminasikan.

e. Melakukan implementasi dan desiminasi


(sumber : https://srilestarilinawati.wordpress.com/)

Dalam langkah ini dilakukan penerapan dan penyebarluasan program ke daerah dan sekolah-sekolah dan dilakukan pendataan tetang kesulitan serta permasalahan yang dihadapi guru-guru di lapangan. Oleh karena itu perlu diperhatikan tentang persiapan dilapangan yang berkaitan dengan aspek-aspek penerapan kurikulum. Pengembangan kurikulum realitas dengan pelaksanaannya, yaitu melalui pengujian terlebih dahulu oleh staf pengajar yang profesional. Dengan demikian, model ini benar-benar memadukan teori dan praktek.

    Tanggung jawab tahap ini dibebankan pada administrator sekolah. Penerapan kurikulum merupakan tahap yang ditempuh dalam kegiatan pengembangan kurikulum. Pada tahap ini harus diperhatikan berbagai masalah : seperti kesiapan tenaga pengajar untuk melaksanakan kurikulum di kelasnya, penyediaan fasilitas pendukung yang memadai, alat atau bahan yang diperlukan dan biaya yang tersedia, semuanya perlu mendapat perhatian dalam penerapan kurikulum agar tercapai hasil optimal.

Monday, March 1, 2021

Kuliah Umum: Inovasi Kurikulum dalam Pendidikan Kimia (Prof. Dr. Claudia Bohrmann-Linde)

 A.    PENDIDIKAN KIMIA DI JERMAN

Pelajaran kimia di Jerman mulai diajarkan saat siswa berada di kelas 7 atau 8 (dengan umur ± 13 tahun) dengan waktu 2 jam/minggu selama 3 tahun. Kemudian ketika sudah lulus dari kelas 10, siswa memiliki porsi belajar kimia lebih banyak yaitu 6 jam/minggu.

Di dalam buku pelajaran kimia, biasanya tiap bab diawali dengan gambar atau hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari kemudian dilanjutkan dengan langkah-langkah untuk melakukan eksperimen, karena kimia merupakan sains eksperimental sehingga mereka percaya bahwa kimia harus dieksplor dengan melakukan percobaan, mengamati, menjelaskan, dan menemukan beberapa konsep umum serta aturan-aturan dalam kimia.

Selanjutnya saat siswa naik kelas 11 dan 12 (atau 12 dan 13), mereka harus belajar (kursus) 3 jam/minggu untuk pelajaran dasar dan 5 jam/minggu untuk pelajaran kimia (jika mereka memilih kimia). Namun jika mereka tidak memilih untuk melanjutkan belajar kimia maka mereka harus mengambil pelajaran sains yang lain. Pelajaran kimia yang diperkenalkan kepada siswa biasanya dimulai dari konsep kehidupan sehari-hari yang umum (dari hal-hal sederhana menuju hal-hal yang kompleks) dengan harapan siswa dapat mendapatkan taste tentang apa yang dapat mereka eksplor berkaitan dengan kimia sehingga ini dapat membuka rasa ketertarikan siswa untuk melakukan research

Bagaimana cara jika kita ingin menjadi guru kimia di Jerman? Untuk menjadi guru kimia di Jerman tentu harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dimana dalam perguruan tinggi (di Jerman) mahasiswa yang ingin menjadi guru kimia tidak hanya mengambil kimia tetapi harus belajar dua subjek dengan mengkombinasikan kimia dengan subjek yang lain, misalnya dengan Bahasa Inggris. Tahapan untuk menjadi guru kimia secara singkat adalah menyelesaikan  S1 (3 tahun) dan S2 (2 tahun), kemudian dilanjutkan dengan magang di sekolah selama 2 tahun, dan terakhir adalah state exam.

 

    B. PENELITIAN INOVASI KURIKULUM

Penelitian ini dilakukan untuk mencoba mengkaji topik yang bisa relevan untuk perubahan yang terjadi 20 tahun ke depan dengan cara berupaya membuat eksperimen-eksperimen baru. Penelitian yang dilakukan berfokus pada energi dan perubahan energi. Beberapa pertanyaan yang mendasari penelitian:

     1. Perubahan Energi pada Sel Surya (energi panas menjadi energi listrik)

Sel surya berbasis silikon memiliki efisiensi di atas 20%, namun produksi sel surya berbasis silikon sangat memakan energi (energy consuming). Sehingga muncul pertanyaan adakah alternatif pengganti untuk sel surya? Inovasi yang diberikan adalah  sel tipe Gratzel dengan titanium dioksida (TiO2).

     2. Perubahan Energi pada Sel Bahan Bakar (energi kimia menjadi energi listrik)

Beberapa contoh bahan bakar yaitu bahan bakar dari hidrogen, dan agen pengoksidasi seperti oksigen. Pertanyaan yang muncul yaitu adakah alternatif untuk sel bahan bakar alkalin? Inovasi yang diberikan adalah sel bahan bakar biologis dengan mikroorganisme (ragi).

     3. Perubahan Energi pada Fotosintesis (energi cahaya menjadi energi kimia)

Fotosintesis merupakan dasar kehidupan di planet bumi karena dari proses fotosintesis ini lah terjadi penyerapan karbondioksida dan kemudian menghasilkan oksigen yang digunakan oleh makhluk hidup untuk bernafas. Namun fotosintesis secara alami memiliki tingkat efisiensi yang rendah (1-2%). Pertanyaan yang muncul yaitu adakah fotosintesis buatan dengan pembentukan sumber energi serbaguna? Inovasi yang diberikan adalah produksi fotokatalitik hidrogen.

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, maka dibuat projek E3 (Exploring Energy by Experiments) dimana program ini diadakan untuk siswa kelas 11-13 dan dilakukan di laboratorium siswa “Chemis-Labothek”.  Projek ini akan fokus pada penelitian tentang energi dan perubahan energi dengan prinsip classic meets innovation.  

 

Perubahan Energi

Klasik

Inovasi

Station 1

Energi cahaya → energi listrik

Sel surya silikon (panel)

Sel fotogalvanic TiO2

Station 2

Energi kimia energi listrik

Sel bahan bakar alkalin

Sel bahan bakar mikrobiologi (ragi)

Station 3

Energi cahaya energi kimia

Fotosintesis dengan elodea

Eksperimen photo-blue-bottle (botol cahaya biru)

Produksi hidrogen fotokatalitik

    C. KESIMPULAN

1.     Integrasi topik terkini tentang pelajaran kimia sangat memungkinkan dan dapat dihubungkan dengan konten dan topik klasik tentang kimia.

2.   Adanya eksperimen mengenai konversi energi dapat menimbulkan kepekaan siswa untuk mempertanyakan suplai energi yang ada.

3.    Membandingkan beberapa eksperimen dapat membantu siswa untuk memahami perubahan energi sebagai prinsip utama.


Contoh Soal HOTS

Sekilas Sejarah Pengolahan Air dengan Teknologi Osmosis      Proses osmosis melalui membran semipermeabel pertama kali diamati pada tahun 17...